Putri Kecilku Berlari Menjemput Maut

07 f 17

Semua yang diberikan Tuhan akan kembali kepada-NYA. Jika sudah ditakdirkan, buah hati, anugrah terbesar yang dititipkan Nya untuk dirawat dan dibesarkan, pun bisa terenggut dari tangan orang tuanya. Seperti yang dialami pasangan M. Denny Abe (32) dan Henna Hennyastuty (30), yang harus ikhlas melepas kepergian putri pertama mereka, Norifumi Sophie Rachmania (2 tahun 8 bulan), akibat ditabrak mobil. Berikut ini penuturan Henna, ibunda Sophie, mengenang masa-masa indah bersama sang buah hati. 

TANGAN MUNGIL ITU TAK SEMPAT KURAIH 

Saat mendapat berita gembira ttg kehamilan pertamaku, aku bersama suami langsung sujud syukur. Pada 12 Desember 2000, putriku lahir. Rasanya aku mengalami kebahagiaan yg tiada
tara. Ia adalah sosok mungil pemberi semangat, sekaligus penghibur dalam kehidupan kami yg pas-pasan kala itu. Demi dialah kami bertahan menjalani hari demi hari.
 

Hidup kami rasanya makin lengkap dengan keberadaannya. APalagi, ditambah kehadiran anak kami yg kedua, M. Noriyuki Fachrurazi atau Yuki (1,6). Kehidupan keluarga kami terasa kian harmonis. Setiap akhir pekan, kami sekeluarga selalu pergi berjalan-jalan. Entah itu ke arena permainan anak-anak, ke mal, atau hanya makan bersama di restoran siap saji. 

Sampai pada suatu akhir pekan kelabu itu, yang membuat acara akhir pekan kami tak bisa lagi sama. Hidup kami rasanya langsung jungkir balik…. Sabtu sore (30/08) itu, kami tidak langsung pergi jalan-jalan. Berhubung minggu depannya ada saudara yang akan menikah, aku mengajak singgah ke tempat penjahit langganan terlebih dahulu yang terletak di Jalan Sawo Kecik, Bukit Duri,
Jakarta.
 

Sebetulnya yg turun di situ cukup aku saja. Tapi, Sophie bersama tantenya (adikku) ikut turun. Yuki tinggal di mobil bersama suamiku. Jalanan disekitar tempat itu memang tidak terlalu lebar, hanya tiga meter. Lokasinya, sih, lebih mirip gang, tapi mobil bisa lewat dari dua arah, meskipun mepet. Jalan itu, kecil tanpa trotoar, tapi suasananya ‘hidup’. Kendaraan umum seperti mikrolet banyak yang melewati jalan itu. 

Ketika aku sedang asyik menerangkan design baju yg kuinginkan pada penjahit, adikku berkata, “Teh, aku ambil Yuki dulu, ya,” ucapnya. Aku mengiyakan saja. Sayangnya, aku tidak menyangka Sophie mengikuti tantenya. Sekilas aku masih melihat Sophie menyusul langkah adikku. Ternyata, setelah aku lihat lebih jelas, adikku sudah berada di seberang jalan, sedangkan Sophie baru saja hendak menuju ke jalan. Secepatnya, aku mencoba menyusul dan berusaha meraih tanggannya. Belum sempat kuraih, dia terus berjalan. Dalam hati, aku berdoa, semoga tidak ada mobil yang lewat. Perasaanku pun deg-degan. 

Tiba-tiba, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi datang. Buum! Tubuh Sophie dihantamnya, tepat di depan mataku. Ya Tuhan….! Hanya selang beberapa detik, aku melihat tubuh Sophie terpental sekitar 50 meter di depan mobil tadi. Belum sempat aku berbuat apa-apa, mobil yang melaju itu – sepertinya pengemudinya tidak bisa mengerem – kembali menerjang tubuh anakku yang terbaring di jalan. Melihat kejadian itu, tak kuasa aku untuk berteriak, walaupun hatiku menjerit kencang. Aku seperti dipaku ditempat. Shock! 

Peristiwa itu terjadi di depan mata kami semua: aku, suami, anakku, dan adikku. Kami lantas berlarian kearahnya. pedih sekali rasanya melihat bidadari kecilku berlumuran darah, merintih kesakitan sambil mengucap dengang lirih,”Ayah…Ayah…Ayah…” 

Kami berebut masuk ke mobil, melarikannya secepat mungkin ke Rumah Sakit Mitra Internasional di Kampung Melayu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Sepintas, aku masih melihat mobil yang menabraknya tidak bergerak. Pengendaranya, seorang wanita berusia kurang dari 40 tahun, terlihat masih Shock. Suamiku mengklakson mobilnya berulang-ulang agar menepi, memberi jalan buat kendaraan kami. AKhirnya dengan bantuan orang-orang disekitar lokasi itu, mobil wanita tersebut bisa dipinggirkan. Di mobil, Sophie masih dalam keadaan sadar. Dia terus merintih. Wajahnya kebam-lebam. Aku tahu, betapa sakitnya dia. Melihat itu, rasanya aku ingin mati saja. Aku cuma bisa bilang, “Kakak tahan, ya,” untuk menenangkannya. 

MIMPI BURUK DUA MALAM BERTURUT-TURUT 

Sampai di rumah sakit, Sophie langsung masuk ke ruang UGD dan mendapat perawatan intensif. Kami bersyukur Sophie dapat ditangani dengan cepat, tanpa harus melewati prosedur segala macam. Aku terus menagis sambil menunggu kepastian dari dokter. Perasaanku galau. Beberapa jam kemudian dokter yang menanganinya keluar dari ruang operasi. “Kondisi anak ibu sangat kritis. Paru-paru kananya pecah, kedua tulang bahunya rontok, tulang rusuk retak, dan di tengkorak pangkal otaknya juga retak. Kami belum bisa berharap banyak,” ujar dr. Antonius, spesialis anak. Setelah mendengar penjelasan itu, pandanganku langsung buram, lututku lemas, dan hati ini rasanya seperti ditusuk-tusuk. 

Keluargaku sepertinya sudah pasrah mendengar vonis dokter. Tapi, aku belum menyerah. Aku terus berharap, malaikat mungilku bisa kembali ke pelukanku. Aku terus berdoa agar beberapa opersai yang dijalaninya hari itu mebawa mukjzat. Lewat jendela kamar, kupandangi sosok mungil itu. Sedih sekali melihat tubuhnya harus ‘dilubangi’ untuk mendapat bantuan perawatan dari mesin. Kenapa bukan aku saja yang menggantikannya? kurasakan, air hangat mengalir dari kelopak mataku. 

Sambil memandanginya, aku teringat peristiwa Sabtu pagi itu. Ayahnya bercerita tentang mimpi yang dialaminya dua malam berturut-turut. Mungkin itu firasat ayahnya. Mimpi pertama, ayahnya memimpikan Sophie meninggal dunia. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Padahal, menurut mitos, mimpi itu artinya orang yang dimimpikan malah panjang umur. Malam kedua, dia melihat air bah yang bening, sekitar 50 meter. Dia menyelamtkanku dan sikecil, Yuki. Tapi, Sophie tidak ada. Saat suamiku menceritakan kepadaku, aku hanya tertawa saja, dan mengatakan bahwa itu hanya bunga tidur, tidak berarti apa-apa. Siapa sangka kami akan mengalami hal ini? 

Hari Minggu-nya, ternyata masa kritis Sophie bisa dilewati, meskipun 90% fungsi tubuhnya masih dijalankan oleh mesin. Kondisinya belum membaik, tapi harapanku muncul kembali.Keesokan harinya, fungsi tubuhnya sudah mulai membaik. Paginya, dia hanya mendapat bantuan mesin 40% saja. Siangnya malah lebih baik lagi, hanya 10%. Secara umum, kondisi tubuhnya mulai membaik, jantungnya bekerja sendiri, paru-parunya sudah berfungsi kembali. Rasanya bahagia sekali, sepertinya doa-doaku terjawab. 

Sambil menunggui di samping tempat tidurnya, aku sring menyanyikan lagu anak-anak kesayangannya. Sophie memang suka sekali menyanyi. Sepertinya aku juga mendengar suaranya mengikuti irama lagu yang kunyanyikan. 

Tapi, kebahagiaan tersebut tidak bertahan lama.
Ada satu bagian luka yang tidak terlihat oleh dokter. Di bagian otaknya terdapat rembesan darah yang tidak terdeteksi. Hal ini menyebabkan dia kejang dan kondisinya kembali memburuk. hatiku cemas sekali. Aku terus berdoa kepada Tuhan agar diberikan kesempatan kedua untuk merawatnya lagi. Aku masih yakin, Sophie akan kembali sehat, apalagi aku melihat usaha keras dr. Antonius. Jantungnya masih terus dipompa.
 

Namun, takdir berkata lain. Saat melihat dia mengembuskan napas terakhir, aku masih belum percaya dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Aku terus berteriak, “Kakak pulang, ya. Kakak cepat pulang lagi, ya,” jeritku tidak rela melepasnya. Bude-ku yang sudah lama berada di sampingku berkata sambil menepuk pundakku, “Likat, Sophie tersenyum.” Aku melihatnya. Ternyata benar, dia tersenyum manis. Melihat itu, rasanya aku ingin mendekati untuk memeluknya dan tak akan kulepaskan lagi. Tapi, aku hanya bisa memandanginya dari balik jendela ruang ICU. Akhirnya, tepat pukul 16.40, Sophie dinyatakan telah tiada. 

PEMBAWA BERKAH KELUARGA 

Kini, yang bisa kulakukan hanyalah mengenangnya. Aku masih ingat kala pertama kali menggendongnya di pelukanku. Rasanya bahagia sekali, sekaligus lega, sebab proses kelahirannya tidak semudah yang kubayangkan. Setiap kontraksi, aku hampir pingsan, karena tidak kuat menahan sakit. Tapi, dokter yang membantu persalinanku sangat sabar. Keputusan untuk dioperasi caesar pun sudah di depan mata. Tetapi, tak berapa lama, dengan cara divakum bayi perempuan mungil itu akhirnya keluar juga. Kami memberinya nama Sophie, sesuai dengan nama dokter yang menolong persalinanku. Norifumi juga nama yang sangat unik, artinya malaikat. Dia memang malaikat kecil kami. 

Semua orang dalam keluargaku menyayangi Sophie. Perilakunya yang riang dan lincah selalu membuat hati setiap orang yang melihatnya ikut gembira. Aku sangat bersyukur akan kehadirannya dalam kehidupan kami. Dia anak yang sangat mengerti orang tua. Tidak banyak permintaan dan selalu menurut kepada orang tuanya. 

Sejak bayipun Sophie tergolong anak yang kuat. Tidak gampang jatuh sakit. Saat ayahnya masih bergabung dengan kelompok lawak Padhyangan 6, Sophie selalu menyertai ayahnya manggung. Bahkan, tidak jarang juga dia dibawa keluar
kota. Untungnya dia anteng dan tidak rewel. Jadi, semua crew yang ada juga ikut menjagainya. Bisa dibilang, Sophie adalah anak asuhan Padhyangan. Setelah usianya beranjak 9 bulan, ayahnya mengundurkan diri dari kelompok itu dan hijrah dari
Bandung ke
Jakarta untuk bekerja di salah satu provider telepon selular. Di Jakarta kehidupan kami makin membaik. kami membangun keluarga ini mulai dari nol. Tapi, sepertinya, setelah kelahiran Sophie, rezeki selalu saja datang. Makanya, kami sering bilang Sophie itu pembawa berkah dalam keluarga kami. Kadang-kadang, kami menyebutnya secara guyon sebagai ‘anak preman’, karena dia cepat beradaptasi di segala situasi dan kondisi. Diajak naik becak, angkot, motor, hingga sekarang naik mobil pun dia oke-oke saja.
 

Istimewanya, dia cepat menghafal sesuatu. Walau usianya baru dua tahun lebih, dia sudah hafal banyak lagu. Lagu-lagu dalam satu VCD anak-anak bisa dinyanyikannya semua. Kesukaannya menyanyi ini tidak hanya dilakukan di rumah. Di acara anak-anak, dimana pun, kalau disodori mikrofon, dia langsung tarik suara, tanpa malu. 

Sophie sangat dekat dengan ayahnya. Aku tahu, ayahnyalah yang paling merasa kehilangan. Sophielah yang selalu membangunkan ayahnya setiap pagi, lalu membawakan koran dans ecangkir teh. Meskipun sering tumpah di tempat tidur, aku tidak sanggup melarangnya melakukan kebiasaan itu. Kini, tidak ada lagi suara yang berkata, “Ayah, hati-hati, ya,” sambil melambaikan tangannya dan mengantarkan ayahnya berangkat kerja. Tak ada lagi sapaannya untuk ayahnya via telepon setiap siang. “Ayah cepat pulang, ya,” celotehnya manja. 

Beberapa minggu setelah dia pergi, rasa sakit terus menderaku. Apalagi mulai muncul kerinduanku untuk memeluk dan menciumnya. Rindu mendengar celotehannya, rindu menlihat gerak-geriknya, rindu sapaannya. Saking rindunya, aku sering menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, aku shalat untuk menenangkan hati. 

Banyak orang bilang, anak adalah titipan Tuhan. Tapi, kadangkala aku masih terus bertanya-tanya, mengapa Tuhan mengambilnya terlalu cepat, padahal kami menerima dengan sepenuh hati titipanNya tersebut? Apa dosa kami? Apa kesalahan kami? Tapi, mungkin ini adalah rencana Yang Mahakuasa, karena di sisiNya Sophie pasti lebih bahagia. 

Aku mencoba bersikap tegar, walau setiap sudut rumahku selalu mengembalikan kenangan tentang Sophie. Tidak hanya itu. Saat berbelanja, membayar listrik atau telepon, ke bank, atau hanya jalan-jalan di depan rumah, selalu terasa ada dia di sampingku. Karena, ke mana pun aku pergi selama ini, Sophie selalu kuajak. Lucunya, bila diajak ke mal, bukannya dia yang lelah, malah dia yang sering bertanya padaku, “Mama capek?” 

Sophie sudah pergi, dan tak ada cara untuk mengembalikannya padaku. Betapapun sakitnya, kami tidak dendam dengan wanita yang menabraknya. Kami malah menganggapnya saudara. Dia benar-benar bertanggung jawab atas perbuatannya. Selama Sophie dirawat, dia terus berada di rumah sakit, termasuk saat pemakaman. Kami tahu, dia pasti tidak sengaja. Sebab, seperti kami, dia juga shock dan stres. 

Kenangan indah bersama Sophie, mulai dari kelahiran hingga akhir hisupnya, menjadi memori yang tak akan kami lupakan. Selamat jalan malaikat kecilku! (FATIMAH NURHAYANI)

Sumber: Putri Kecilku Berlari Menjemput Maut – Femina No. 44 tahun 2003


Saya Manusia Biasa

07 f 7

Tiba-tiba Yulli marah-marah, menutup telepon dengan keras dan melemparkan sebuah pena yang hampir mengenai meja ku …. suasana kantor menjadi semakin gaduh saat itu. Beberapa hari yang lalu Yulli baru saja memutuskan hubungan cintannya yang sudah berjalan lebih dari 4 tahun itu. Yulli berencana untuk menjauhi laki-laki yang selama ini justru selalu menjadi pengganggu pikirannya. Ia sudah lama kehilangan rasa cintanya terhadap pria berdarah
Palembang itu, konon Pria itu sering memperlakukan Yulli dengan sangat kasar bila pria itu marah.
 

Saya sebagai teman dekat, mencoba untuk menghibur kegundahan hatinya, beberapa saat Ia tidak menginginkan untuk menceritakan hal itu, namun setelah beberapa hari Ia datang sendiri kerumahku untuk menceritakan segumpal masalah yang menyesakkan hatinya selama ini. 

Ia memulai kalimat-kalimatnya dengan menangis, Ia sangat terpukul sekali dengan masalah pribadinya. “Beberapa tahun lalu Yulli sangat mencintai dan percaya penuh dengan pria itu, apapun yang Ia inginkan selalu Yuli berikan”.  

Permulaan cerita itu membuat saya langsung saja dapat menebak maksud cerita Yulli, ketika saya berusaha meyakinkan pikiran saya dengan menekankan suara tanya saya kepadanya, Yulli malah semakin menangis tersendak.  

Yulli salah satu korban seperti ratusan perempuan yang terkena tipu daya laki-laki, selama waktu Ia berpacaran, Ia hanya sebagai tempat pelampiasan hawa nafsu pacarnya. Yulli adalah perempuan muda yang belum memiliki prinsip yang kuat, Ia hanya terjerumus oleh “trend” dan
gaya hidup masa kini.
 

Saya sendiri merasa seperti terpukul mendengar cerita itu, saya sebagai seorang pria pun merasakan penderitaan Yulli yang sangat miskin pengetahuan akan agama itu. Lantas aku bertanya kepadanya : “kamu tahu
kan seberapa besar dosanya melakukan hal itu?” saya tidak tahu, benar apa tidak perkataan saya tadi, yang jelas hanya kalimat itulah yang muncul difikiran saya saat mendengarkan ceritanya.
 

Meski saya sangat marah mendengar cerita itu, namun saya mencoba untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang akan menambah kesedihannya. Sesekali  saya hanya mencoba mengeluarkan kata-kata bijak untuknya, saya hanya mencoba memberikan motivasi untuk kehidupannya esok harinya. 

Namun dibalik semua perkataan saya saat itu, saya merasakan kegagalan yang besar bagi diri saya, saya merasa tidak mampu menjaga seorang teman baik. Saya mengenal Yulli lebih lama dibanding Pria liar itu, namun saya tidak sanggup menjaga Yulli dan keutuhan kehidupannya.  

Saya hanya berujar “keputusanmu untuk meninggalkannya adalah sebuah keputusan besar yang bijak buat diri mu, mungkin mahkota itu telah direnggutnya, namun hati kecilmu masih menyisakan kekayaan moral dan kebaikan” Yulli saat itu merasakan tidak mampu melakukan apa-apa lagi, Ia merasa seperti orang yang tidak memiliki arti lagi, namun Ia tidak mampu bila harus memilih terus bersama dengan pria yang sering kali menyakitinya. Yulli sedih sekali bila Ia mengingat bahwa pacarnya hanya baik kepadanya bila Ia sedang menginginkan sebuah hubungan itu dengan Yulli. 

Entah kenapa saat itu saya sangat ingin sekali menolongnya, saya ingin membuat Yulli menjadi tidak frustasi lagi, membuat Yulli menjadi semangat lagi, dan membuat Yulli kembali kepada ajaran agama serta tobat kepada-Nya. 

Entah apa yang saya pikirkan, entah benar atau tidak, waktu itu saya langsung berjanji bersedia untuk menikahinya dan tetap berada disampingnya dalam keadaan apapun. Mungkin waktu itu saya terlalu berlebihan, namun saya merasakan kepedihannya yang amat dalam. Disamping itu saya memiliki dua orang kakak perempuan, saya hanya merasakan bagaimana bila kejadian itu terjadi kepada kedua kakak saya. 

Hari terus berjalan, pekan demi pekan berganti serta bulan demi bulan kami lalui. Semula kami menjalani hubungan itu dengan baik, kami tidak pernah ribut dan keadaan Yulli mulai membaik. Keinginannya untuk mempelajari kitab suci semakin tinggi, kedisiplinannya di Agama semakin membaik terutama Ibadah sholat dan berpuasa. 

Sampai pada suatu ketika sebuah hal mulai menjalar merasuki hubungan kami berdua. Entah apa salah saya, hingga orang tua dan keluarga Yulli mulai mencoba mengatur kehidupan saya dan Yulli. Mereka mulai menjalani adat-istiadat jawa yang terkesan kuno dan mengekang. Bagi saya, hati saya mulai mencintai Yulli dengan sepenuh hati, namun perinsip kuno itu membuat saya menjadi melihat beberapa hal yang lebih nyata di diri Yulli.  

Yulli tidak mampu mendeskripsikan secara baik mengenai diri dan keberadaan saya kepada keluargannya. Awalnya saya mencoba menerima hal-hal kecil tersebut, namun semakin hari saya semakin melihat kosongnya keteguhan dan prinsip dari diri seorang Yulli. 

Yulli memang seorang wanita modern yang sama sekali tidak memiliki prinsip, Ia anak tertua namun selalu berada dibawah aturan adik-adiknya. Yulli tidak dapat berkompromi dan bernegosiasi dengan keluargannya tentang kehadiran saya. Hingga seringkali adik-adiknya mencoba ikut mengatur dan menasehati saya.  

Dalam keterhimpitan posisi saya, pikiran saya hanya memberikan jawaban : “ternyata ini adalah jawaban mengapa Yulli menerima pacarnya itu untuk menidurinya” Ia tidak memiliki perinsip, Ia tidak memiliki keteguhan hati, Ia sangat naif dan tidak dapat memimpin dirinya sendiri. 

Mungkin saya sangat hilaf saat itu, mencoba menanggung apa yang bukan saya lakukan. Hingga pada kenyataannya saya selalu terbayang dengan “hubungan mereka” dan segudang pertanyaan tentang itu semua. Hinggga setiap ada masalah diantara kami saya cenderung langsung sensitif dan berfikir yang bukan-bukan.  

Saya memang manusia biasa, saya pun seorang pecundang. Saya berani mengambil keputusan tanpa pernah mengukur kesanggupan diri ini untuk menerima resikonya. Hingga pada suatu saat, saya mendengar cerita teman saya tentang hubungan cintanya. Ia memutuskan pacarnya yang “susah diatur” dengan alasan :  

“kenapa pusing-pusing untuk berusaha merubah orang, sementara untuk merubah diri sendiri pun sudah sangat susah, ya sudah cari aja yang lain yang memang minimal sudah 80% sikap dan sifatnya sama dengan kita”.  

Sebulan masalah mengenai keluarga itu telah ada di sekeliling hubungan kami. Meski saya sangat membutuhkan masukan, saya mencoba untuk tidak menceritakan kepada sahaba-sahabat saya mengenai keaslian cerita yang saya alami. 

Saya merasakan kebimbangan yang mendalam, hingga saya beberapa kali berfikir :  

“sebenarnya saya rela untuk mengabdikan diri ini untuk kehidupan Yulli dan semua keputusan saya saat itu, tapi biarkan saya untuk berprilaku apa adanya, tanpa desakkan kalian pun (keluarga Yulli) saya sudah sangat merasa bimbang”.  

Memang saya terus-menerus merasakan kebimbangan, karap kali saya selalu berfikir mengenai keputusan saya itu. Tak jarang pula ego saya meuncul seolah saya sudah cukup besar memberikan budi baik terhadap Yulli. 

Setahun sebelum kisah saya dengan Yulli, saya pun pernah mengalami kegagalan dengan perempuan lain bernama Erna. Waktu itu, ketika saya sudah sangat mencintainya dan bersusah payah menjaga kehormatannya selama 4 tahun, Ia menikah dengan orang lain teman sekantornya. Saya berfikir : 

“Suratan apa yang sedang Tuhan berikan kepada saya, disaat saya telah menjaga kehormatan seorang perempuan selama bertahun-tahun pada hubungan saya lalu, yang selalu menjalankan hubungan cinta di jalan-Mu, tetapi perempuan itu justru pergi menikah dengan pria lain. Sementara saat ini Engkau kirimkan kepadaku seorang wanita yang pernah melewati rambu-rambu yang telah Engkau tetapkan”   

Saya merasa hancur melihat seluruh jalan hidup saya ini, hingga pada saatnya saya mencoba menjauhi Yulli tanpa pernah berani untuk memberikan ketegasan tentang kelanjutan hubungan itu. Saya merasakan bahwa saya sangat pengecut, tapi saya sangat tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sementara saya tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi kepada Yulli, saya tidak sanggup melihat air matanya untuk yang kedua kalinya, untuk itu saya pergi begitu saja. 

Maafkan saya Yulli…………. 

Maafkan saya Tuhan……..  

Bukan maksud saya menyakiti salah satu hamba-Mu, untuk keputusan itu saya hanya mengharapkan surga-Mu, benar-benar untuk surga-Mu, bukan murka-Mu. Namun mental ini terpaksa rapuh oleh hujan cobaan yang belum semua dapat saya hadapi. Karena saya manusia biasa ………… 

Sumber : Kisah Seseorang